|
Pasal
Menjelaskan Beberapa Kesalahan Mendasar
Orang-Orang Yang Mengaku Bermadzhab
Hanbali |
Beberapa nama penulis kitab yang
telah aku sebutkan di atas, dasar kesalahan yang
terjadi pada diri mereka adalah dalam tujuh
perkara berikut:
-
Mereka selalu menamakan
setiap teks yang memberitakan tentang Allah
sebagai sifat-sifat-Nya, padahal tujuan
teks-teks tersebut hanya untuk mengungkapkan
penyandaran saja (al-Idlâfah).
[Artinya penyandaran sesuatu kepada nama
Allah untuk menunjukan bahwa Allah
memuliakan sesuatu tersebut]. Sementara,
tidak setiap bentuk Idlâfah itu dalam
pengertian sifat, contohnya firman Allah
tentang Nabi Isa:
وَنَفَخْتُ فيْه مِنْ رُوْحِي (الحجر: 29)
Kata ”من
روحي” dalam ayat ini
tidak boleh dipahami bahwa Allah memiliki sifat
yang disebut dengan ”ruh” [lalu sebagian ruh
tersebut adalah bagian dari Nabi Isa yang
ditiupkan kepadanya]. (Tetapi yang dimaksud
adalah bahwa ruh tersebut adalah ruh yang
dimuliakan oleh Allah). Barangsiapa memahami
bahwa setiap Idlâfah itu sebagai sifat
maka dia seorang yang telah sesat dan ahli
bid’ah.
-
Mereka selalu saja berkata:
”Hadits-hadits yang kita bicarakan ini
adalah hadits-hadits mutasyâbihât
yang maknanya tidak diketahui oleh siapapun
kecuali oleh Allah saja”, lalu mereka
berkata: ”Kita harus memahami hadits-hadits
tersebut sesuai makna zahirnya”.
Kata-kata seperti ini adalah
ungkapan yang sangat aneh, mereka mengatakan
”Makna-maknanya tidak diketahui oleh siapapun
kecuali oleh Allah saja”, tapi begitu mereka
sendiri memaknai itu semua dalam makna zahirnya.
Padahal siapapun tahu bahwa makna zahir dari
kata ”Istawâ” adalah duduk, dan makna
zahir ”nuzűl” adalah pindah dengan
bergerak dari satu tempat (atas) ke tempat yang
lain (bawah). [Lalu adakah pantas jika Allah
disifati dengan sifat-sifat benda semacam ini?
Allah maha suci dari apa yang dikatakan oleh
orang-orang kafir dengan kesucian yang agung].
-
Mereka sendiri telah
menetapkan sifat-sifat bagi Allah sesuai
dengan apa yang mereka kehendaki, padahal
sesungguhnya seluruh sifat-sifat Allah itu
hanya kita tetapkan sesuai dengan apa yang
telah ditetapkan oleh Allah sendiri dengan
dalil-dalil yang pasti (tawqîfiyyah).
-
Dalam menetapkan sifat-sifat
Allah mereka tidak pernah membedakan antara
hadits-hadits yang masyhur; seperti sabda
Rasulullah:
ينْزلُ ربّنا إلَى السّماء الدّنيا
dengan hadits-hadits yang tidak
benar; seperti hadits:
رأيتُ ربّي فِي أحْسَن صُوْرة
dengan hanya bahwa keduanya
diriwayatkan dalam hadits lalu secara langsung
mereka menetapkan sifat-sifat bagi Allah; tidak
peduli baik itu dengan dasar yang masyhur atau
tidak.
-
Dalam menetapkan sifat-sifat
Allah mereka tidak membedakan antara hadits
marfű’ (yang langsung berasal dari
Rasulullah) dengan hadits mawqűf
(yang berasal dari pernyataan seorang
sahabat, atau yang berasal dari pernyataan
seorang tabi’in). Dengan hanya bahwa semua
itu diriwayatkan dalam sebuah hadits lalu
secara langsung mereka menetapkan
sifat-sifat bagi Allah; tidak peduli baik
itu hadits marfű’ atau mawqűf.
-
Dalam memahami sifat-sifat
Allah, terhadap beberapa teks mereka
melakukan takwil sementara terhadap beberapa
teks lainnya mereka tidak memakai takwil
[Artinya pemahaman mereka hanya didasarkan
kepada hawa nafsu belaka]. Seperti dalam
sebuah hadits:
مَنْ أتَانِي يَمْشِي أتَيتُهُ هَروَلة
[Makna literal hadits ini tidak
boleh kita ambil, mengatakan: ”Siapa
mendatangi-Ku dengan berjalan maka Aku (Allah)
akan mendatanginya dengan lari kecil”. Makna
zahirnya seakan Allah berlari].
Mereka memahami hadits ini
dengan takwil, mereka tidak memahaminya dalam
makna zahirnya. Mereka berkata: ”Kandungan
hadits ini adalah untuk mengungkapkan karunia
dan nikmat yang diberikan oleh Allah kepada
hamba-Nya”.
-
Mereka memahami kandungan
hadits-hadits mutasyâbihât dalam
makna indrawi. Ini nyata dan sangat jelas
ada dalam ungkapan-ungkapan mereka, seperti
kata: ”Yanzil bi dzâtih ”ينزل
بذاته”, Yantaqil
”ينتقل”,
Yatahawwal ”يتحول”.
[Ini ungkapan-ungkapan sesat, karena itu
semua hanya berlaku untuk sifat-sifat benda.
Dalam pemahaman mereka; yanzil bidzâtih
artinya; ”Allah turun dengan Dzat-Nya”,
yantaqil artinya; ”Allah pindah”, dan
yatahawwal artinya; ”Allah berubah dari
satu keadaan kepada keadaan yang lain”].
Lalu mereka berkata: ”Lâ kamâ na’qil
”لا كما
نعقل”; artinya: ”Itu
semua tidak seperti yang kita bayangkan
dalam akal pikiran kita”. Kata-kata terakhir
inilah yang banyak mengelabui orang-orang
awam. Padahal kesimpulan mereka ini jelas
telah menyalahi akal sehat karena berangkat
dari pemahaman indrawi dan sifat-sifat benda
pada hak Allah.
Berangkat dari sini aku melihat
bahwa menuliskan buku bantahan terhadap
kesesatan mereka adalah sebuah keharusan, supaya
keyakinan-keyakinan buruk semacam itu tidak lagi
disandarkan kepada Imam Ahmad bin Hanbal. Bahkan
mungkin saja seandainya aku terus berdiam diri
maka mereka akan mengatakan bahwa akidah buruk
yang mereka yakini itu merupakan keyakinan
diriku. Bagi siapapun jangan menganggap perkara
semacam ini masalah remeh, karena berpijak dan
mengamalkan sebuah dalil; terlebih dalam
masalah-masalah akidah yang menyangkut
pengetahuan kita kepada Allah tidak boleh hanya
didasarkan kepada taqlid buta.
Suatu ketika Imam Ahmad ditanya
sebuah masalah, lalu beliau memberi fatwa
sebagai jawabannya, tiba-tiba seseorang berkata
kepadanya: ”Fatwa seperti itu tidak pernah
disampaikan oleh Imam Abdullah bin al-Mubarak”,
maka Imam Ahmad menjawab: ”Abdullah bin
al-Mubarak tidak turun dari langit”.
Imam Syafi’i --semoga rahmat
Allah selalu tercurah baginya-- berkata: ”Aku
telah melakukan istikhârah untuk membuat
catatan bantahan kepada Imam Malik --semoga
rahmat Allah selalu tercurah baginya--”.
Tiga orang yang telah aku
sebutkan di atas (Abu Abdillah bin Hamid, Abu
Ya’la, dan Ibn az-Zaghuni) telah menuliskan
beberapa kitab dalam mengungkapkan akidah buruk
seperti yang kita jelaskan di atas, dan Abu
Ya’la telah menuliskan buku khusus mencakup
hadits-hadits yang ia pahami seperti demikian
itu; maka dalam buku ini aku sebutkan kerancuan
mereka satu per satu secara tersusun, dimulai
dengan menjelaskan ayat-ayat yang telah mereka
kutip. |