|
Ke Tujuh:
ثُمّ اسْتَوَى عَلَى العَرْش (الأعراف: 54)، /
ثُمّ اسْتَوَى عَلَى العَرْش (يونس: 3)، ثُمّ
اسْتَوَى عَلَى العَرْش (الرعد: 2)، ثُمّ اسْتَوَى
عَلَى العَرْش (الفرقان: 59)، ثُمّ اسْتَوَى عَلَى
العَرْش (السجدة: 4)، ثُمّ اسْتَوَى عَلَى العَرْش
(الحديد: 4)، الرّحْمنُ علَى العَرْش اسْتَوى (طه:
5)
Imam al-Khalil ibn Ahmad [ahli
bahasa terkemuka; guru Imam Sibawaih] berkata:
“Makna al-‘Arsy “العرش”
adalah as-Sarîr “السرير”;
artinya ranjang [atau singgasana]. Setiap
ranjang atau singgasana yang ditempati oleh
seorang raja secara bahasa disebut dengan arsy.
Penggunaan kata “‘Arsy” dalam bahasa Arab
sangat dikenal, baik di masa jahiliyah maupun
setelah kedatangan Islam. Dalam al-Qur’an
penggunaan kata arsy di antaranya dalam firman
Allah:
وَرَفَعَ أبَوَيْهِ عَلَى الْعَرْش وَخَرّوْا لَهُ
سُجّدًا (يوسف: 100)
[Maknanya: “Dan Nabi Yusuf
menaikan kedua ibu bapaknya (Nabi Ya’qub) ke
atas arsy (singgasana), dan mereka semua turun
baginya bersujud]” (QS. Yusuf: 100)
Juga dalam firman-Nya tentang
perkataan Nabi Sulaiman:
قَالَ يَاأيّهَا الْمَلأ أيّكُمْ يَأتِيْنِي
بعَرْشِهَا (النمل: 38)
[Maknanya: “Nabi Sulaiman
berkata: Wahai pembesar-pembesar siapakah di
antara kalian yang dapat mendatangkan arsy-nya
kepadaku? (yang dimaksud mendatangkan singgasana
Ratu Bilqis)]”. (QS. An-Naml: 38 ).
Ketahuilah, kata Istawâ
“استوى”
dalam bahasa Arab memiliki berbagai macam arti,
di antaranya bermakna I’tadala “اعتدل”;
artinya “sama sepadan”. Dalam makna ini sebagian
kabilah Bani Tamim berkata:
فَاسْتَوَى
ظَالِمُ العَشِيْرَةِ وَالْمَظْلُوْمُ
[Artinya “Menjadi sama antara
orang yang zalim dari kaum tersebut dengan orang
yang dizaliminya”. Kata Istawâ dalam bait
sya’ir ini artinya “sama sepadan”].
Kata Istawâ
dapat pula bermakna tamma “تمّ”
; artinya sempurna. Dalam makna ini seperti
firman Allah tentang Nabi Musa:
وَلَمّا بَلَغَ أَشُدَّهُ وَاسْتَوَى ءَاتَيْنَاهُ
حُكْمًا وَعِلْمًا (القصص: 14)
[”Ketika dia (Nabi Musa) telah
mencapai kekuatannya dan telah sempurna Kami (Allah)
berikan kepadanya kenabian dan ilmu”]. (QS. Al-Qashash:
14).
Kata
Istawâ
dapat pula bermakna al-Qashd Ilâ asy-Syai’
“القصد إلى
الشىء” artinya; bertujuan
terhadap sesuatu. Dalam makna ini seperti firman
Allah:
ثُمّ اسْتَوَى إلَى السّمَاء (فصلت: 11)
[Yang dimaksud Istawâ
dalam ayat ini ialah qashada “قصد”,
artinya bahwa Allah berkehendak (bertujuan)
untuk menciptakan langit].
Kata Istawâ dapat pula
dalam makna al-Istîlâ’ ‘Alâ asy-Syai’ “الاستيلاء
على الشىء” artinya;
menguasai terhadap sesuatu. Dalam makna ini
sebagaimana perkataan seorang penyair:
إذَا مَا غَزَا قَوْمًا أبَاحَ حَرِيْمهُمْ
وأضْحَى عَلى مَا مَلَكُوْهُ قَدِ اسْتَوَى
[Maknanya: “Apa bila ia
memerangi suatu kaum maka ia mendapatkan
kebolehan atas sesuatu yang terlarang dari
mereka, dan jadilah ia terhadap apa yang mereka
miliki telah menguasai”].
Isma’il bin Abi Khalid ath-Tha’i
meriwayatkan bahwa arsy adalah yaqut yang
berwarna merah. Para ulama Salaf memahami ayat
ini sebagaimana datangnya [dalam teks-teks
syari’at] tanpa memberlakukan tafsir dan takwil
terhadapnya.
Sementara itu ada golongan yang
datang belakangan (al-Muta’akhirîn) yang
memahami ayat ini dalam makna indrawi [yaitu
kaum Musyabbihah]. Di antara mereka ada
yang menambahkan kata “Dzat” “ذات”
; mereka berkata: “Istawâ ‘Alâ ‘Arsyihi Bi
Dzâtih” “استوى
على عرشه بذاته” [ini
ungkapan sesat hendak mengatakan bahwa Allah
dengan Dzat-Nya bertempat di arsy]. Padahal
tambahan kata tersebut dari mereka sendiri,
karena tidak ada riwayat dari siapapun yang
menyebutkan redaksi demikian. Tambahan redaksi
ini tidak lain hanya datang dari pemahaman
indrawi mereka, dalam hal ini mereka berkata:
“al-Mustawî ‘Alâ asy-Syai’ Innamâ Yastawî Bi
Dzâtih” “المستوي
على الشىء إنما يستوي بذاته”.
[Mereka memahami kata Istawâ hanya dalam
makna bertempat dan bersemayam, karena itu dalam
kesimpulan sesat mereka Allah bertempat dengan
Dzat-Nya di atas arsy].
Ibnu Hamid al-Musyabbih
berkata: “Pemahaman Istawâ di sini adalah
bahwa Allah menempel (pada arsy), Istawâ
ini adalah sifat Dzat-Nya, dan makna Istawâ
di sini adalah duduk”.
Ibnu Hamid juga berkata:
“Sebagian golongan dari para sahabat kami [orang-orang
yang mengaku bermadzhab Hanbali] berpendapat
bahwa Allah bertempat di arsy, namun Dia tidak
memenuhi arsy. Dan bahwa Allah mendudukan Nabi
Muhammad di atas arsy bersama-Nya”.
Ibnu Hamid juga berkata:
“Pengertian an-Nuzűl [dalam hadits “ينزل
ربّنا”] adalah berpindah
[dari atas ke bawah]”.
Ini artinya dalam keyakinan
sesat Ibnu Hamid bahwa Allah ketika turun maka
Dzat-Nya menjadi jauh lebih kecil dari pada arsy
[karena dalam riwayat sahih disebutkan bahwa
besarnya langit dibanding arsy seperti kerikil
dibanding padang yang luas]. Yang sangat
mengherankan dari mereka dengan keyakinan rusak
ini mereka berkata: “Kami bukan kaum
Mujassimah (golongan yang mengatakan Allah
sebagai benda)”.
Sementara Ibn az-Zaghuni
al-Musyabbih pernah ditanya: “Apakah ada
sifat Allah yang baharu sebelum Dia menciptakan
arsy?” [Artinya; jika dikatakan Allah bertempat
di arsy maka berarti sifat “bertempat” tersebut
baharu karena Allah ada sebelum arsy], Ibn
az-Zaghuni menjawab: “Tidak ada sifat Allah yang
baharu. Allah menciptakan alam ini dari arah
bawah-Nya, maka alam ini dari-Nya berada di arah
bawah. Dengan demikian, jika telah tetap bahwa
“arah bawah” bagi sesuatu selain Allah maka
secara otomatis telah tetap bahwa “arah atas”
sebagai arah bagi-Nya”.
Ibn az-Zaghuni juga berkata:
“Telah tetap bahwa segala tempat itu bukan di
dalam Dzat Allah, dan Dzat Allah juga bukan pada
tempat. Dengan demikian maka sesungguhnya Allah
terpisah dari alam ini. Dan ini semua mestilah
memiliki permulaan hingga terjadi keterpisahan
antara Allah dengan alam. Dan ketika Allah
berfirman: “استوى”
maka kita menjadi paham bahwa Dia berada di arah
tersebut [bertempat di arsy]”.
Lalu Ibn az-Zaghuni juga
berkata: “Dzat Allah pasti memiliki ujung dan
penghabisan yang hanya Dia sendiri yang
mengetahuinya”.
Aku (Ibnul Jawzi) berkata:
“Orang ini tidak mengerti dengan segala apa yang
ia ucapkannya sendiri. Padahal [akal sehat
mengatakan] ketika ditetapkan adanya ukuran,
ujung dan penghabisan serta jarak terpisah
antara Allah dengan makhluk maka berarti orang
itu telah berkeyakinan bahwa Allah sebagai
benda. Benar, memang dia sendiri (Ibn
az-Zaghuni) telah mengakui bahwa Allah sebagai
benda (jism), karena dalam bukunya ia
mengatakan bahwa Allah bukan jawhar
(benda terkecil yang tidak dapat dibagi-bagi dan
tidak dapat dilihat oleh mata) karena jawhar
itu tidak memiliki tempat, sementara Allah
--menurutnya-- memiliki tempat; yang Dia berada
pada tempat tersebut”.
Aku (Ibnul Jawzi) berkata: “Apa
yang diungkapkan oleh Ibn az-Zaghuni [dan orang
musyabbih semacamnya] menunjukan bahwa
dia adalah seorang yang bodoh, dan bahwa dia
seorang musyabbih (menyerupakan Allah
dengan makhluk-Nya). Si “syekh” ini benar-benar
tidak mengetahui apa yang wajib pada hak Allah
dan apa yang mustahil bagi-Nya. Sesungguhnya
wujud Allah tidak seperti wujud segala jawhar
dan segala benda; di mana setiap jawhar
dan benda pastilah berada pada arah; bawah,
atas, depan, [dan belakang], serta pastilah ia
berada pada tempat. Lalu akal sehat mengatakan
bahwa sesuatu yang bertempat itu bisa jadi lebih
besar dari tempatnya itu sendiri, bisa jadi
lebih kecil, atau bisa jadi sama besar, padahal
keadaan semacam ini hanya berlaku pada benda
saja. Kemudian sesuatu yang bertempat itu bisa
jadi bersentuhan atau tidak bersentuhan dengan
tempat itu sendiri, padahal sesuatu yang
demikian ini pastilah dia itu baharu. Logika
sehat menetapkan bahwa segala jawhar [dan
benda] itu baharu; karena semua itu memiliki
sifat menempel dan terpisah. Jika mereka
menetapkan sifat menempel dan terpisah ini bagi
Allah maka berarti mereka menetapkan kebaharuan
bagi-Nya. Tapi jika mereka tidak mengatakan
bahwa Allah baharu maka dari segi manakah kita
akan mengatakan bahwa segala jawhar (dan
benda) itu baharu -selain dari segi sifat
menempel dan terpisah-? [artinya dengan dasar
keyakinan mereka berarti segala jawhar
--dan benda-- tersebut tidak baharu sebagaimana
Allah tidak baharu]. Sesungguhnya bila Allah
dibayangkan sebagai benda [seperti dalam
keyakinan mereka] maka berarti Allah membutuhkan
kepada tempat dan arah. [Oleh karena itu Allah
tidak dapat diraih oleh segala akal dan pikiran,
karena segala apapun yang terlintas dalam akal
dan pikiran maka pastilah ia merupakan benda dan
Allah tidak seperti demikian itu].
Kemudian kita katakan pula:
“Sesungguhnya sesuatu yang bertempat itu
adakalanya bersampingan dengan tempat tersebut
(at-Tajâwur) dan adakalanya berjauhan
dari tempat tersebut (at-Tabâyun); tentu
dua perkara ini mustahil bagi Allah. Karena
sesungguhnya at-tajawur dan at-tabayun
adalah di antara sifat-sifat benda [dan Allah
bukan benda].
Akal sehat kita juga menetapkan
bahwa berkumpul (al-Ijtimâ’) dan berpisah
(al-Iftirâq) adalah di antara tanda-tanda
dari sesuatu yang bertempat. Sementara Allah
tidak disifati dengan tanda-tanda kebendaan dan
tidak disifati dengan bertempat, karena jika
disifati dengan bertempat maka tidak lepas dari
dua kemungkinan; bisa jadi berdiam pada tempat
tersebut, atau bisa jadi bergerak dari tempat
tersebut. Sesungguhnya Allah tidak disifati
dengan dengan gerak (al-Harakah),
diam (as-Sukűn), berkumpul
(al-Ijtimâ’), dan berpisah (al-Iftirâq).
Kemudian pula; sesuatu yang
bersampingan dengan tempat (at-Tajâwur)
dan berjauhan dari tempat (at-Tabâyun)
maka pastilah sesuatu tersebut sebagai benda
yang memiliki bentuk dan ukuran. Dan sesuatu
yang memiliki bentuk dan ukuran maka mestilah ia
membutuhkan kepada yang menjadikannya dalam
bentuk dan ukurannya tersebut.
Kemudian pula; tidak boleh
dikatakan bagi Allah di dalam alam, juga tidak
dikatakan di luar alam ini, karena pengertian di
dalam (Dâkhil) dan di luar (Khârij)
hanya berlaku bagi segala benda yang memiliki
tempat dan arah. Pengertian di dalam (dâkhil)
dan di luar (khârij) sama dengan gerak
(al-harakah) dan diam (as-sukűn);
semua itu adalah sifat-sifat benda yang khusus
hanya tetap dan berlaku pada benda-benda”.
Adapun perkataan mereka: “Allah
menciptakan segala tempat di luar diri-Nya”; ini
berarti dalam keyakinan sesat mereka bahwa Allah
terpisah dari tempat-tempat tersebut dan dari
seluruh alam ini. Kita katakan kepada mereka:
“Dzat Allah maha suci; Dzat Allah bukan benda,
tidak dikatakan bagi-Nya; Dia menciptakan
sesuatu [dari makhluk-Nya] di dalam Dzat-Nya,
juga tidak dikatakan Dia menciptakan sesuatu di
luar Dzat-Nya. Dzat Allah tidak menyatu dengan
sesuatu apapun, dan tidak ada suatu apapun yang
menyatu dengan Dzat Allah”.
Sesungguhnya dasar keyakinan
sesat mereka adalah karena mereka berangkat dari
pemahaman indrawi tentang Allah [mereka
berkeyakinan seakan Allah sebagai benda], karena
itulah ada dari sebagian mereka berkata:
“Mengapa Allah bertempat di arsy?
Adalah karena arsy sebagai benda
yang paling dekat dengan-Nya”.
Apa yang mereka ungkapkan ini
adalah jelas kebodohan, karena sesungguhnya
dekat dalam pengertian jarak --dalam pemahaman
siapapun-- hanya berlaku pada setiap benda. Lalu
dengan dasar apa orang bodoh semacam ini
mengatakan bahwa keyakinan sesatnya itu sebagai
keyakinan madzhab Hanbali?? Sungguh kita [Ibnul
Jawzi dan para ulama saleh bermadzhab Hanbali]
merasa sangat dihinakan karena keyakinan bodoh
ini disandarkan kepada madzhab kita.
Sebagian mereka; dalam
menetapkan keyakinan rusak Allah bertempat di
arsy mengambil dalil --dengan dasar pemahaman
yang sesat-- dari firman Allah:
إلَيْه يَصْعَدُ الْكَلِمُ الطّيّبُ وَالعَمَلُ
الصّالِحُ يَرْفَعُه (فاطر: 10)
Juga --dengan pemahaman yang
sesat-- dari firman Allah:
وَهُوَ القَاهِرُ فَوْقِ عِبَادِهِ (الأنعام: 61)
Dari firman Allah QS. Fathir: 10
dan QS. al-An’am: 61 ini mereka menyimpulkan
bahwa secara indrawi Allah berada di arah atas.
Mereka lupa (tepatnya mereka tidak memiliki akal
sehat) bahwa pengertian “fawq”, “فوق”
dalam makna indrawi hanya berlaku bagi setiap
jawhar dan benda saja. Mereka meninggalkan
makna “fawq” dalam pengertian “Uluww
al-Martabah”, “علوّ
المرتبة”; “derajat yang
tinggi”, padahal dalam bahasa Arab biasa dipakai
ungkapan: “فلان
فوق فلان”; artinya;
“Derajat si fulan (A) lebih tinggi dibanding si
fulan (B)”, ungkapan ini bukan bermaksud bahwa
si fulan (A) berada di atas pundak si fulan (B).
Kita katakan pula kepada mereka:
“Dalam QS. al-An’am: 62 Allah berfirman: “فوق
عباده”, kemudian dalam
ayat lainnya; QS. al Hadid: 4, Allah berfirman:
“وهو معكم”,
jika kalian memahami ayat kedua ini dalam
pengertian bahwa Allah maha mengetahui setiap
orang dari kita [artinya dipahami dengan takwil
“معيّة العلم”];
maka mengapa kalian menginkari musuh-musuh
kalian (yaitu kaum Ahlussunnah) yang mengartikan
“فوق”
atau “استوى”
dalam pengertian bahwa Allah maha menguasai
[artinya dipahami dengan takwil “فوقية
القهر والاستيلاء”]?”.
Lebih buruk lagi, sebagian
kaum Musyabbihah tersebut berkata: “Allah
bertempat di arsy dan memenuhi arsy tersebut,
dan sangat mungkin bahwa Allah bersentuhan
dengan arsy, sementara al-Kursy [yang berada di
bawah arsy] adalah tempat kedua telapak kaki-Nya”.
Na’űdzu billâh.
Aku katakan: “Sifat bersentuhan itu hanya
terjadi di antara dua benda. Sungguh, mereka
kaum musyabbihah buruk itu tidak menyisakan
sedikitpun dari sifat-sifat benda kecuali semua
itu mereka sandangkan kepada Allah”.
|