|
Hadits Ke Eman Puluh
Diriwayatkan dari
Jabir bahwa Rasulullah bersabda:
(Þíá) ÅÐóÇ ÑóÃíÊõã ÇáÑøíÍó ÝáÇ ÊóÓõÈøæåóÇ
ÝÅäøåóÇ ãöäú äóÝóÓö ÇáÑøÍúãä ÊóÃÊöí ÈÇáÑøÍúãóÉ
æóÊÃÊöí ÈÇáÚóÐóÇÈ ÝóÇÓúÃáõæÇ Çááåó ÎóíúÑóåóÇ
æóÇÓúÊóÚöíúÐõæÇ ÈÇááå ãöäú ÔóÑøåóÇ
[Makna literal riwayat ini
mengatakan: ”Jika kalian melihat angin maka
janganlah kalian mencacinya, karena sesungguhnya
ia adalah nafas Allah, datang dengan rahmat dan
datang dengan siksaan, maka mintalah kepada
Allah akan kebaikan angin tersebut dan
berlindunglah dengan Allah dari keburukannya”].
[Makna literal ini seakan menetapkan adanya
nafas bagi Allah].
Kata ”ÇáäÝÓ”
adalah dalam makna ”ÇáÊäÝíÓ”;
artinya melapangkan segala kesulitan. [Dengan
demikian makna hadits tersebut adalah bahwa
angin adalah diantara yang melapangkan kesulitan;
dan yang dimaksud adalah angin yang membawa
rahmat yang dikirimkan oleh Allah].
Semakna dengan pemahaman
hadits ini hadits lainnya yang diriwayatkan dari
sahabat Abu Hurairah bahwa Rasulullah bersabda:
Åäøíú áÃÌöÏõ äóÝóÓó ÑóÈøßõãú ãöäú ÌöåóÉö
Çáúíóãóä
Yang dimaksud hadits ini
adalah bahwa pertolongan Allah dalam melapangkan
segala kesulitan yang menimpa penduduk Madinah
di kala itu datang berasal dari arah Yaman [artinya
pertolongan tersebut datang dari orang-orang
yang berasal dari Yaman], dan kota Madinah dekat
dengan Yaman. Inilah
pemahaman yang benar; yang tidak diperselisihkan
oleh siapapun di antara orang-orang Islam.
Sementara Ibnu Hamid
al-Mujassim berkata: ”Saya mendapati
sebagian orang dari sahabat kami menetapkan
sifat bernafas bagi Allah”. Na’ûdzu billâh.
Ibnu Hamid juga berkata: ”Mereka
(sahabat kami) berkata: Berbagai macam angin
yang berhembus, seperti al-ashif,
al-’aqim, al-janub, as-syamal, ash-shaba,
dan ad-dabbur; semua itu adalah makhluk,
kecuali angin yang merupakan sifat-Nya, yaitu
angin sepoi-sepoi yang membuat khayalan; angin
inilah yang dimaksud nafas Allah”. Na’ûdzu
billâh.
Aku (Ibnul Jawzi) berkata:
”Laknat Allah bagi orang yang berkeyakinan
seperti demikian itu, karena dengan begitu
mereka telah menetapkan Allah sebagai benda yang
diciptakan, orang-orang yang berkeyakinan
seperti ini bukanlah orang-orang Islam”.
Aku (Ibnul Jawzi) berkata:
”Ketika kitab tulisanku ini diketahui oleh
sekelompok dari orang-orang bodoh semacam
mereka; sedikitpun mereka tidak menampakan rasa
senang [bahkan membencinya], karena mereka telah
terbiasa dan sangat akrab dengan faham-faham
sesat dari pimpinan-pimpinan mereka yang
notabene kaum Mujassimah. Mereka berkata: ”Ini
bukan pemahaman madzhab kita [madzhab Hanbali]”.
Aku [Ibnul Jawzi] katakan kepada mereka: ”Benar,
ini bukan pemahaman madzhab kalian, juga bukan
pemahaman guru-guru yang kalian ikuti. Dengan
tulisanku ini aku telah mensucikan madzhab Ahmad
bin Hanbal dari kesesatan-kesesatan akidah
tasybîh, aku telah membersihkannya dari
kutipan-kutipan dusta dan kebohongan-kebohongan
yang disandarkan kepadanya, aku bukan seorang
yang hanya ikut-ikutan (muqallid) dalam
masalah akidah ini; tidak seperti kalian,
bagaimana mungkin aku akan meninggalkan
”mutiara” (maksudnya madzhab Hanbali); tidak mau
menyelamatkannya??”.
Aku (Ibnul Jawzi) berkata:
ÓóÈóÞúÊõ ÈÜÍóãúÏ Çááå ãóäú ßóÇäó
ÞóÈúáöí ÝóÞõáú áöáøÐöí íóÑÌõæ áöÍóÜÇÞöí
Úóáóì ãóåúá
æóÅäøßõãú áóÜæú ÊóäúÞõÕõÜæúäó ÚöÊÜóÇÈóßõãú
áóÚóÒø Úóä ÇáÊøÝÜúÊöíúÔö Ãäú ÊóÜÌöÏõæÇ ãöËúáöí
“Dengan segala pujian Allah; aku telah mengungguli
orang-orang terdahuluku, katakan kepada
orang-orang yang hendak melampauiku:
“Perlahanlah, jangan terburu-buru [engaku tidak
dapat melebihiku]”
“Sungguh sekalipun kalian terus berusaha belajar; maka
tetap kalian akan kesulitan untuk mendapatkan
[mencapai tingkatan] orang semacam diriku”.
Dan berikut ini adalah bait-bait
syair panjang; aku (Ibnul Jawzi) katakan:
ÍóãöÏúÊõ ÅáóÜåöí ßóíúÜÝó áÇ æóáóåõ
ÇáÝóÖúáõ ßóÜãóÇ ÞóÏú ÊóæóáÇøäöíú
ÝóÐóáøÊú áöíó ÇáÓøõÈõÜáõ
Aku memuji Allah, bagaimana tidak? Karena milik Dialah
segala karunia [bagiku], juga karena Dia-lah
yang telah membimbingku sehingga semua jalan (semua
sebab) menjadi tunduk bagi diriku.
æóÃÎúÜÑóÌóäöíú ãöäú Èóíúäö ÃåúÜáöí ãõÝúåöÜãðÇ
æóÚóáøÜãóäöí ÚöáúãðÇ Èöåö ÞöíúãóÜÊöíú
ÊóÛúÜáõæÇ
Dialah(Allah) yang telah mengeluarkan diriku di antara
keluargaku sebagai orang yang paham (berilmu),
Dialah pula yang telah mengajariku ilmu; yang
dengan ilmu itu harga diriku menjadi mahal.
æóÍóÑøßóÜäöíú ááúãõÜßóÑøãÜóÇÊ ÃÍõÜæúÒõåóÇ
ÝóåöÜãøÉõ äóÝúÜÓöí ÏóÇÆöÜãðÇ ÃÈóÏðÇ
ÊóÚúÜáõæ
Dialah yang telah menggerakan diriku terhadap segala
kebaikan yang aku raih, maka sungguh semangat
[untuk meraihnya] pada diriku senantiasa ada dan
selamanya tinggi.
æóÃáúåóÜãóäöí ÈÇáÚöÜáúã ÍóÜÊøì ãóáßúÜÊõåõ
ÝÕóÜÇÑ ãóÑíúÑ ÇáÕøóÈÑ ÚäúÏ Ýóãöí íóÍúÜáõæ
Dialah yang memberikan ilham pada diriku dengan ilmu
hingga aku dapat menguasai ilmu tersebut, [yang
karena itu] maka kepahitan dalam bersabar
dimulutku menjadi manis.
æóÞóÏú ÒóÇÏó ÚöÔúÜÞöí ááÚõÜáõæúãö
ÝóÃÕúÈóÍúÊõ ßóÊÜöãúËóÜÇáö áóíúáóì ÚöäúÏó
ÞóíúÓò ÝóãóÇ íóÓúáõæ
Sungguh sangat besar keasyikanku dengan ilmu-ilmu hingga
aku seakan menjadi patung Layla bagi Qais;
alangkah senangnya ia (Qais).
ÝóãóÇ ãöäú Úõáõæúã ÈóËøÜåóÇ Çááåõ Ýöí ÇáÜæóÑóì
Åáóì ÎóÜáúÞåö ÅáÇø æóáöí ãóÚúÜåóÇ æóÕúÜáõ
Maka tidak ada dari ilmu-ilmu apapun [dari ilmu-ilmu
syari’at] yang disebarkan oleh Allah bagi para
makhluk-Nya kecuali aku memahami ilmu-ilmu itu
semua.
æóÕóäøÝúÊõ ãóÇ ÞóÏú ÕõäøÝ ááäøÇÓ ÌäúÜÓõåõ
ÝíóÇ ÞóÇÕÏí ÇáÅäúÕóÇÝ áöí ãóíøÒõæÇ æÇÈáæÇ
Telah aku tulis setiap jenis dari ilmu [syari’at] itu
bagi segenap manusia, wahai orang-orang yang
adil lihatlah dan bedakanlah bagiku [apa yang
telah aku tulis] dan perhatikanlah
[keistimewaannya].
æóáöí ãöÜäú ÈóÏöíåóÇÊ ÇáßóáÇã ÚóÜÌóÇÆÈõ
ÊõßóÜøÑ ÚáíÜúåã ßõáøãÇ ØõæøáÊú ÊÜóÍúáæ
Aku memiliki penjelasan-penjelasan yang mengagumkan;
yang itu semua terus diulang-ulang [diajarkan]
kepada mereka; bahkan bila terus diperpanjang
penjelasan-penjelasanku itu akan bertambah
manis.
æóÞóÏú ÞóÇÏóäöí ÚöáÜãöí Åáóì ÇáÒøåÏ Ýöí ÇáÏøäÇ
æãóÇ ÌõÜãÚóÇ ÅáÇ áöÚóÜúÈÏò áÜåõ ÝóÖúÜáõ
Sungguh ilmuku telah mengarahkan diriku untuk
menghindari [bersikap zuhud] perkara hina, dan
tidaklah dapat diraih keduanya [ilmu dan zuhud]
itu kecuali oleh orang memiliki keutamaan.
äÜÚÜã æóÊõÞÜÇÉ Çááå ÃÔÜÑóÝ ÎõÜáøÉ æóáÇ
ÎíúÑó Ýöí Þóæáò ÅÐÇ ÖõíøÜÚ ÇáÝÚúÜáõ
Sebaik-baik teman adalah takwa kepada Allah, dan sungguh
tidak ada kebaikan dalam kata-kata jika tidak
ada pengamalan bagi kata-kata tersebut.
ÞäõÜæÚöí ÈöãÇ íßÝöí íóÞíÜúäí ãöä ÇáÃÐóì
æóÈóÚúÜÏ íóÞöíúÜäí ÈÇáÜãóÞóÇÏíÜúÑ áÇó Ðõáøõ
Kepuasanku dengan sesuatu yang mencukupi [dari dunia]
telah menghindarkanku dari segala marabahaya,
dan setelah kuatnya keyakinanku terhadap segala
ketentuan [Allah] maka tidak akan kehinaan.
æóÃõÍúÜÓöäõ ãöäú Úöáãò ÊÑóÇãóÜì ÈÃåúÜáåö
ÅáóÜì ãóíúä ãóÜÎúáõæÞ íõãóÇËáåõ ÇáÜÌóåúáõ
Aku benar-benar telah mumpuni dalam ilmu [madzhab Imam
Ahmad bin Hanbal]; di
mana yang ahli dalam ilmu
tersebut telah dituduh menzalimi dan membodohi
manusia.
æóÃÓúÜßöäõ ÞóáúÜöÈí ÍõÈø ßõáø ãõÜÍóÞøÞ
ÚóÔÜÞúÊõ ßóãóÇ ÊÚúÔÜÞõ ÇáÃÚúíõäõ ÇáäøÌóáõ
Aku tempatkan pada hatiku kecintaan terhadap setiap
orang ahli ilmu [muhaqqiq], dan aku benar-benar
mencintai dan terbuai oleh orang seperti itu
seperti terbuainya seseorang oleh
perempuan-perempuan yang indah pandangan
matanya.
æóÈóÛúÜÏóÇÏõ ÏóÇÑñ áíÜúÓó íõÛúÜÈäõ ÃåúáóÜåóÇ
æóãóÇ ÍõÈøÜåõãú ÅáÇ áÜãóäú ãÇ áóå ÔóÜßáõ
Dan kota Bagdad bukanlah rumah yang menipu para
penduduk di dalamnya, dan tidaklah kecintaan
para penduduk kota tersebut terhadap seseorang
kecuali orang tersebut memiliki keutamaan ilmu
[artinya; seluruh penduduk kota Bagdad mengakui
keutamaan ilmuku].
æóßõáø ÇáÈÜáÇÏ ÃÔúÍóÜäóÊúåóÇ ÝÖóÜÇÆöÜáöí
ÃóÞóÜÑø ÈÝóÖúáöí ÇáÏøíä æÇáúÍÒä æÇáÓøÜåúáõ
Seluruh negeri telah dipenuhi keutamaan-keutamaanku,
bahkan keutamaanku telah diakui oleh ahli agama,
orang yang sedih, dan orang yang kaya.
æóÐßúÜÑöí æÑóÇÁó ÇáäøÜåúÑ ÈÇáÝóÖúá æóÇÝöÜÑõ
æóÝí ÇáÜãóÛúÑÈ ÇáÃÞÕóì æãóÇ ÈóáÛóÊú ÅÈáõ
Namaku disebut-sebut oleh orang-orang di seberang sungai
Jaihun (Bilad Ma Wara’ an-Nahr), oleh
orang-orang yang ada di wilayah Maghrib
al-Aqsha, dan oleh orang-orang yang berada di
berbagai wilayah yang sampai ditempuh unta.
æóáÜãøÇ äóÜÙóÑúÊõ Ýöí ÇáúãóÜÐÇåÈ ßõáøåóÇ
ØóáóÈúÊõ ÇáÃÓóÜÏøó Ýöí ÇáÕøæóÇÈ æãóÇ ÃÛúáõæ
Ketika aku melihat dan memperhatikan seluruh madzhab;
maka aku mencari “yang paling lurus dalam
kebenaran” di antara semua madzhab tersebut, dan
tidaklah dalam hal ini aku berlebih-lebihan.
ÝóÃáÜÝóíÊõ ÚäúÏ ÇáÓøÈÑ ÞóÜæúáó ÇÈúäö ÍóäúÈóáò
íóÜÒíúÏ Úóáóì ßõáø ÇáÜãóÐÇåöÈ Èóáú íóÚúáõæ
Maka aku mendapati keadaan yung paling baik adalah
dengan mengambil madzhab Ahmad, madzhab ini
memiliki kelebihan dari lainnya; bahkan lebih
tinggi.
æóßõáø ÇáóÜÐí ÞóÜÏ úÞÇáóÜåõ ÝóÜãõÔíøóÜÏñ
ÈäóÜÞúá ÕóÍíúÍò æÇáÜÍóÏíúËõ åõæ ÇáÃÕúáõ
Setiap apa yang ia (Ahmad bin Hanbal) katakan dikuatkan
dengan dalil yang benar; dan sungguh hadits
adalah sebagai dasarnya.
æóßÇä ÈäóÞúá ÇáÚÜáã ÃÚúÑÝó ãóÜäú Ñæóì íÞÜæã
ÈÃäúÈÜóÇÁò æÅäú ÔóÜÇäåõ ÚóÖóÜáõ
Dia (Ahmad bin Hanbal) adalah orang yang paling paham
dalam periwayatan hadits, ia selalu berusaha
mendatangkan hadits-hadits walaupun itu sangat
sulit.
æóãóÜÐúåóÈõÜåõ Ãäú áÇ íÜõÔÜÈÜøåó ÑóÈøÜåõ
æíóÊúÈÜóÚ Ýí ÇáÊøÓáíúã ãóäú ÞÏú ãÜÖóì ÞóÈáõ
Madzhab beliau [dalam akidah] adalah tidak menyerupakan
Allah dengan suatu apapun, beliau mengikuti
orang-orang terdahulu dalam metode taslîm
[berserah kepada Allah dalam memahami
sifat-sifat-Nya tanpa menyerupakan-Nya dengan
suatu apapun].
ÝóÞóÜÇãó áóåõ ÇáúÍõÓøÜÇÏõ ãöäú ßõáø ÌóÜÇäÈò
ÝÞóÜÇãó Úóáóì ÑöÌúá ÇáËøÈÇÊö æóåõãú ÒóáøÜæúÇ
Banyak para penghasud dari berbagai arah yang
menghasudnya, namun beliau tetap kuat dalam
keyakinannya; sungguh para penghasud itulah yang
telah sesat.
æóßóÇäó áóÜåõ ÃÊúÈóÜÇÚõ ÕöÜÏúÞò ÊóÊóÇÈóÚõÜæÇ
Ýóßóãú ÃÑúÔóÏõæÇ äóÜÍúæó ÇáúåõÏóì æóáóßõãú
ÏóáøõæÇ
Beliau (Ahmad bin Hanbal) memiliki banyak pengikut yang
baik-baik yang mengikut setiap jejaknya, sungguh
mereka telah membawa petunjuk bagi kalian.
æóÌóÜÇÁßó ÞóÜæúãñ íóÏøóÚõÜæúäó ÊóÜãóÐúåõÈðÇ
ÈÜãóÐúåóÈåö ãóÇ ßõáø ÝóÜÑúÚò áóÜåõ ÃÕúÜáõ
Tapi kemudian datang kepadamu suatu kaum yang mengaku
bermadzhab dengannya [madzhab Hanbali], tapi
sesungguhnya tidaklah setiap cabang itu benar
sesuai pokoknya.
ÝóÜáÇó Ýöí ÇáÝõÜÑõæÚö íõËúÈöÊõÜúæäó áöäóÕúÜÑöå
æóÚäúÜÏóåõãú Úóäú ÝóÜåúãö ãóÇ ÞÇáóåõ ÔõÛúÜáõ
Dalam masalah-masalah furû’ mereka itu sedikitpun
tidak menguatkan apa yang telah ditetapkan
olehnya [Ahmad bin Hanbal], dan sungguh mereka
tidak pernah menyibukan diri untuk memahami
[mempelajari] apa yang telah dikatakan olehnya
[Ahmad bin Hanbal].
ÅÐóÇ äóÇÙóÜÑõæÇ ÞóÇãõÜæÇ ãóÞóÜÇãó ãóÝÜóÇÊáó
ÝóÜæóÇ ÚóÌóÜÈóÇ æÇáÞóÜæãõ ßõáøÜåõãú ÚóÒáõ
Jika berdebat [urusan agama] maka mereka tidak ubah
seperti “kulit-kulit pada biji kurma” [tidak
memiliki kekuatan], sungguh sangat mengherankan
karena mereka semua adalah orang-orang lemah
[bodoh; tidak paham urusan agama].
ÞíÜóÇÓõÜåõãú ØóÜÑúÏðÇ ÅÐóÇ ÕóÜÏøÑõæÇ Èåö
æóåõÜãú Úóäú ÚõáÜæúã ÇáäøÞúáö ÃÌúãóÚåóÇ ÚóØóáõ
Jika mereka membuat qiyas [dalam masalah hukum]
maka apa yang mereka buat itu tidak dapat
diterima, dan sungguh mereka itu adalah
orang-orang yang tidak paham sedikitpun tentang
dalil-dalil tekstual.
ÅÐóÇ áóÜãú íóßõäú Ýí ÇáäøÞÜá ÕóÇÍöÈ ÝöØúäÉò
ÊóÔóÇÈÜóåóÊö ÇáúÜÍóíøÇÊõ æóÇäúÞóØóÚ
ÇáúÍóÈúáõ
Padahal, jika tidak ada orang cerdas untuk memahami
dalil-dalil tekstual; maka ular-ular akan saling
mematuk sesama mereka dan tali akan menjadi
putus [tidak lagi bermadzhab kepada Ahmad].
æóãóÇ áõæÇ Åáóì ÇáÊøÔÈíúå ÃÎúÐÇ ÈöÕõæÑóÉ ÇáÜ
ÜÐíú äóÞóáõæåõ Ýöí ÇáÕøÜÝóÇÊö æóåõãú ÛóÝóáõ
Kemudian mereka lebih condong untuk mengambil keyakinan
tasybîh [menyerupakan Allah dengan
makhluk-Nya]; karena mereka mengambil “segala
bentuk” [artinya mengambil secara zahir] dalam
segala apa yang mereka ambil dari sifat-sifat
Allah, sungguh mereka semua adalah orang-orang
lalai.
æóÞÇáõÜæÇ ÇáøÐí ÞõáäóÇå ãóÐúåÈ ÃÍúÜãóÏ
ÝãóÜÇá Åáóì ÊóÕúÏöíúÞÜåãú ãóäú Èåö ÌóÜåúáõ
Lalu mereka berkata: “Apa yang kita katakan ini adalah
madzhab Ahmad bin Hanbal”, hingga kemudian
orang-orang bodoh membenarkan apa yang mereka
katakan.
æóÕóÜÇÑó ÇáÃÚóÇÏöí ÞóÇÆáÜíúäó áößõáøÜäóÇ
ãõÔóÈøÜåóÉñ ÞóÏú ÖóÑøäÇó ÇáÕøÜÍúÈõ
æóÇáÜÎõáøõ
Sebab mereka itulah maka semua musuh berkata bagi kita:
“Semua orang bermadzhab Hanbali adalah kaum
Musyabbihah [menyerupakan Allah dengan
makhluk-Nya]”, sungguh ini sebenarnya telah
menyakitkan kami karena bersahabat dan berteman
[dengan mereka; orang-orang yang mengaku
bermadzhab Hanbali].
ÝóÞóÏú ÝóÖóÜÍõæÇ ÐóÇßó ÇáÅãóÇãó ÈÜÌóåúáöåãú
æóãóÐúåóÈõÜåõ ÇáÊøäúÜÒíúåõ áßöäú åõãõ
ÇÎúÊóÜáøõæÇ
Sungguh perbuatan mereka itu telah melukai (mengotori)
nama Imam Ahmad karena kebodohan mereka sendiri,
padahal keyakinan Ahmad adalah tanzîh
[mensucikan Allah dari menyerupai makhluk-Nya],
dan sebenarnya mereka sendirilah yang sesat.
áóÚõãúÜÑíú áóÞóÏú ÃÏúÑóßúÊõ ãäúåõãú ãóÔóÇíÜÎðÇ
æÃßúÜËóÑ ãóäú ÃÏúÑßúÊõÜåõ ãóÇ áåõ ÚóÞúÜáõ
Sungguh, aku telah benar-benar bertemu dengan
“syekh-syekh” para perusak madzhab Hanbali
tersebut, dan ternyata aku mendapati kebanyakan
mereka adalah orang-orang yang tidak punya akal
[tidak paham urusan agama].
æóãóÇ ÒöáúÊõ ÃÌúÜáõæÇ ÚóäúÜåõãú ßõáø ÎöáøÉò
ãöäó ÇáÇÚúÊÞóÇÏ ÇáÜÑøÐáö ßóíú íóÌúãóÚó
ÇáÔøãúáõ
Aku senantiasa menjelaskan bagi mereka setiap
“kerusakan/borok” dalam akidah sesat mereka;
dengan tujuan supaya perpecahan dalam madzhab
ini selesai [menjadi bersatu].
ÊÓóãøÜæÇ ÈÃáÞóÜÇÈò æóáÇó ÚöÜáúãó ÚöäúÏóåõãõ
ÝóæóÇÆöÜÏõåõãú áÇ ÍÜÑã ÝíúåóÇ æóáÇ ÍöÜáø
Mereka menyandang berbagai gelar padahal mereka tidak
memiliki ilmu sedikitpun, ajaran-ajaran mereka
tidak ada pengaruh di dalamnya dalam masalah
halal dan haram.
ãóæóÇÆöÜÏõåõãú áÇó íóáúÜÍóÞ ÇáúÎóÜáø ÈóÞúÜáåóÇ
æÅäú ÔöÜÆúÊó áÇó Îóáøñ ÚóáíúÜåóÇ æóáÇó ÈóÞúáõ
“Meja makan” mereka hambar; sayur mereka tidak memiliki
cuka [hambar tanpa garam], bahkan jika engkau
ingin; katakanlah bahwa meja makan mereka tidak
memiliki cuka dan tidak memiliki sayur.
æóÃßúÜËóÑõ ÍõÓøóÜÇÏò áóäóÇ ÃåúÜáõ
ãóÐúåóÜÈöíú Ýóáóæú ÞóÜÏÑõæúÇ ÃÝúÊóÜæÇ ÈÃäø
ÏóãöÜí Íöáøõ
Padahal kebanyakan mereka yang dengki terhadap kita
adalah orang-orang yang mengaku bermadzhab kita
sendiri [madzhab Hanbali], bahkan jika mampu
mereka akan mengatakan bahwa darahku halal [karena
membongkar kesesatan akidah mereka].
ÊóãóäøÜæúÇ ÈöÌóÜåúáò Ãäú ÊóÜÒöáø Èöíó
ÇáäøÜÚúáõ æóáóãú ÊóãúÔö Ýöí ãóÌúÏò
ÈöãöËúáöí áóåõãú ÑóÌõáõ
Mereka berharap, -dengan kebodohan yang ada pada diri
mereka-, supaya langkahku ini terpeleset;
padahal tidak ada orang [dalam madzhab ini] yang
berjalan dengan kemuliaan [karunia] seperti
diriku.
æóãõäúÐõ ãõÖöíø ÔóíúÎö ÇáÜÌóãóÇÚóÉ
ÃÍúÜãóÏõ Åáóì ÇáÂäó áóÜãú íõæÌóÏú
áöÚóÇáöÜãößõãú ãöËúáõ
Sungguh, setelah Ahmad bin Hanbal; -sebagai pimpinan
umat Islam- telah tiada, hingga sekarang tidak
pernah ada lagi orang alim di antara kalian yang
seperti dia.
áóÞóÏú ÈóÇÊó ÚöäúÜÏöí ÃáÝõ ÃáÝò
íóÞõÜæãõæÇ ÓóÜÍóÇÈóÉ æÚúÙöí ßõáøÜåõã
ÕóíøÈñ æóÈúáõ
Kini telah ada pada diriku sejuta pelajaran [dalam
urusan madzhab Hanbali] yang semua itu merupakan
awan yang akan memberikan hujan yang deras [memberi
faedah yang sangat besar].
æóÑóæúÖóÜÇÊõ Úöáúãöí ßõáøåóÇ ÊóãúÑóÍ ÇáúÌóäì
æóÈõÓúÜÊóÇäõÜåõãú ÅÐóÇ ãóÇ ÊóÃãøóáúÜÊóåõ
ÃËóÜáõ
Taman-taman ilmuku semuanya telah siap dipetik,
sementara kebun mereka -jika engkau perhatikan-
tidak lain hanyalah berisi pohon-pohon kering (gersang
dan tandus).
æóßóíúÝó ÊóÜÑóì ÊÈóÑøì ÇáúÍóÓõÜæÏõ æóÏóÇÄõåõ
ÅÐóÇ ÓõÆÜá ÇáØøÈøõ ÇáúÎóÈÜíúÑõ Èåö íóÓúáõæ
Dan sungguh engkau akan lihat [tamanku itu sebagai] obat
bagi orang yang dengki; yang bila seorang dokter
ahli [berpengalaman] ditanya resep; dengan
senang ia akan memberikan obat dari dariku itu.
ÊóÜÝóÜÑøÏ ÈÇáÈõÛúÖ ÇáÞóÈÜíúÍ ãõÜÎóÇáöÝõ
ÃáóíúÓó ÇÌúÊöãóÇÚ ÇáäøÇÓö áöí ÔóÇåöÏñ
ÚóÏúáõ
Namun seorang pembangkang akan tetap menampakan sifat
bencinya yang jelek, tidakkah [cukup baginya]
jumlah manusia yang sangat banyak ini sebagai
saksi yang adil bagi [kebenaran] diriku?
************* s e l e s a i
************
|